Masker Batik Bantu Eropa Cegah Corona

Ribuan masker batik Indonesia turut membantu warga Eropa mencegah penyebaran virus Corona. Penggunanya pun cukup beragam dari mulai anak-anak, remaja hingga dewasa. Para konsumen di Eropa kebanyakan menyukai masker batik warna pesisir dan kurang berminat dengan warna-warna cerah. Sejauh ini masker batik sedikitnya telah memasuki empat pasar Eropa yaitu Belanda, Jerman, Austria, dan Perancis.

Masker batik Indonesia paling laris di Belanda yang merupakan negara dengan hubungan sejarah panjang dengan Indonesia sehingga masyarakatnya telah mengenal dan mengagumi budaya Indonesia termasuk batik. Lokasi Belanda yang strategis dan telah lama menjadi hub bagi pemasaran produk-produk Indonesia ke negara-negara Eropa menjadi keuntungan tersendiri. Biasanya dari Belanda produk-produk Indonesia tersebar ke Jerman, Belgia, Austria dan Perancis.

Peluang semakin menjanjikan dikarenakan harga masker batik Indonesia cukup bersaing jika dibandingkan dengan produk-produk masker yang saat ini ditawarkan di Belanda. Hal tersebut juga didukung dengan berbagai kebijakan Pemerintah Belanda yang memberlakukan aturan kewajiban penggunaan masker kepada warganya di berbagai tempat dan lokasi seperti di dalam bis dan tempat-tempat umum lainnya.

Selain itu, di Belanda juga terdapat sekitar 2 juta orang lebih diaspora Indonesia yang memiliki keterkaitan dengan Indonesia. Jumlah ini tentunya merupakan pangsa pasar yang besar jika dilihat dari jumlah penduduk Belanda yang hanya sekitar 17 juta jiwa. Potensi pasar semakin terbuka dikarenakan keberadaan Warga Negara Indonesia (WNI) di Belanda dengan jumlah lebih dari 15 ribu orang.

Masker-masker tersebut merupakan beragam produk hasil Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dari berbagai daerah penghasil batik terkenal Indonesia seperti Lasem, Wonosari, dan Yogyakarta.

Keberhasilan pemasaran masker batik di Belanda tidak terlepas dari hasil kerja sama yang apik antara salah seorang diaspora Indonesia, Ine WawoRuntu, Ketua Yayasan Hibiskus dengan berbagai UMKM penghasil batik di Indonesia. Hal ini merupakan bentuk kepedulian para diaspora akan nasib para pengrajin kecil Indonesia yang terkena imbas krisis Corona saat ini.

“Kegiatan pemasaran masker batik kami lakukan melalui toko-toko milik para diaspora dan WNI di Eropa serta dari mulut kemulut. Alhamduillah melalui usaha ini dapat membantu saudara-saudara kita di tanah air," Ucap Ine.

Pemasaran masker batik ke Eropa tidak hanya diinisiasi oleh kalangan diaspora tapi juga oleh salah seorang penggiat batik di Indonesia, Muhammad Sartono dari Sahabat Budaya Indonesia. Sejauh ini pihaknya berhasil memasarkan masker batik Lasem ke Perancis dan Australia yang mendapatkan sambutan cukup hangat. Baginya mempromosikan berbagai produk batik dan turunannya di berbagai negara merupakan kebanggaan tersendiri.

“Di masa pandemik seperti sekarang ini, menuntut kami untuk terus kreatif dan berinovasi salah satunya dengan pembuatan dan pemasaran masker batik ke berbagai belahan dunia. Di tahun 2019, Sahabat Budaya Indonesia sukses menyelenggarakan workshop batik di berbagai kota di Eropa bekerja sama erat dengan Perwakilan RI," ungkap Ahmad.

Usaha pemasaran masker batik ke Eropa tentunya tidak tanpa kendala, selain biaya transportasi yang mahal, pengurusan dokumen, juga pemilihan warna corak yang sesuai dengan selera konsumen menjadi hal yang perlu diperhitungkan.

Kisah sukses pemasaran masker batik ke Eropa menunjukkan bahwa produk-produk Indonesia dapat diterima dan memilki berbagai keunggulan. Oleh karena itu peluang ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat Indonesia untuk terus berkarya dalam menghasilkan berbagai produk berkualitas guna mencari berbagai peluang bisnis di tengah guncangan ekonomi dunia saat ini.

Kalau di Eropa saja sudah ribuan orang yang menggunakan masker batik asli Indonesia, ayo kita pakai masker batik untuk mencegah penyebaran Corona di tanah air sekaligus membantu usaha kecil saudara-saudara kita. Batik Mendunia, Indonesia Bangga!

 

https://kumparan.com/yusuf-muhammad-dr/masker-batik-bantu-eropa-cegah-corona-1u4KYbKp9cQ/full

Share this article

Tobias Asserlaan 8,
2517 KC Den Haag, Belanda

 

 

www.indonesia.nl

kontak & pelayanan

Buka Kantor:
Senin - Jumat
10.00 - 17.00 

Kekonsuleran: 
Hari SENIN, RABU & JUMAT saja
10.00-12.00

Paspor: 
Hari RABU & JUMAT saja
10.00-12.00

Visa:  
Hari SELASA & KAMIS saja
10.00-12.00




KBRI tutup pada hari libur nasional Indonesia dan Belanda

info hari libur 2020

Lokasi & Route