Kisah Inspiratif Diaspora Belanda Bantu WNI Tangkal Corona

Diaspora Indonesia bantu ratusan WNI di Belanda untuk menangkal Corona melalui pelayanan tes Polymerase Chain Reaction (PCR). Kegiatan langsung dipelopori oleh Ketua Diaspora Indonesia di Belanda, dr. Lany Pradjaharadja. Pemeriksaan PCR merupakan pekerjaan yang cukup berisiko bagi kalangan medis dimanapun, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat dr. Lany untuk terus mengulurkan tangannya membantu saudara setanah air.

Dibandingkan dengan tempat pemeriksaan lainnya, PCR yang diselenggarakan oleh dr. Lany dirasakan banyak memberikan berbagai kemudahan dan keunggulan bagi para WNI. Sehingga tidak mengherankan ratusan WNI datang dan melakukan pemeriksaan untuk berbagai keperluan seperti kelengkapan dokumen untuk pulang kampung, masuk perguruan tinggi dan keperluan pemeriksaan kesehatan.

Keunggulan yang pertama tentunya layanan diberikan menggunakan bahasa Indonesia, sehingga memberikan kemudahan bagi WNI untuk berkonsultasi baik sebelum maupun sesudah pelaksanaan tes. Hasil pemeriksaan pun sudah dapat diketahui keesokan harinya dengan pengiriman melalui email atau diambil secara langsung.

Tempat pelayanan yang nyaman dan bersih menjadi faktor penting dengan standar protokol kesehatan Belanda. Para WNI tidak perlu antre lama karena jadwal sudah ditentukan sesuai dengan waktu perjanjian tanpa perlu khawatir berkerumun dengan orang banyak sehingga risiko bertemu dengan pasien lain dapat diminimalisir.

Selain itu, hasil tes PCR yang diterbitkan berstandar internasional, sehingga diakui oleh seluruh negara di dunia. Hasil PCR juga dilengkapi dengan sertifikat kesehatan yang merupakan hal yang sangat sulit didapatkan jika WNI harus ke Rumah Sakit atau klinik di Belanda. Bahkan khusus bagi anak-anak, sertifikat kesehatan diberikan secara gratis untuk memberikan keringanan.

Dari segi lokasi, kegiatan pemeriksaan dilaksanakan di kota Den Haag yang merupakan kota terbesar di Belanda di mana WNI menetap. WNI tidak perlu jauh datang ke Pusat Kesehatan di Amsterdam yang memakan waktu dan biaya transportasi yang tidak murah apalagi di tengah ancaman Corona seperti sekarang ini.

Pelayanan semakin terasa lengkap, karena bisa dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu untuk memberikan kesempatan bagi para WNI yang tidak dapat datang di hari kerja. Dr. Lany dapat diakses kapanpun untuk membuat janji pertemuan dan dengan sabar melayani sepenuh hati pertanyaan-pertanyaan mengenai kesehatan melalui sambungan telepon tanpa dipungut biaya. Dalam kondisi tertentu, bahkan dr. Lany tanpa berpikir panjang datang menemui WNI yang memerlukan bantuan dan membantu berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh KBRI Den Haag serta kegiatan lainnya.

Siapa saja yang pernah mengenal dr. Lany, tentunya akan merasakan kehangatan dan keakraban. Senyumnya selalu menghiasi wajahnya dan nasihat-nasihatnya menyejukkan serta meringankan beban derita siapa pun yang mendengarnya.

"Pengabdian ini merupakan hadiah yang bisa saya berikan kepada para WNI yang berada di Belanda di masa-masa sulit. Saya akan terus berkontribusi dengan keahlian yang saya miliki untuk membantu sesama yang membutuhkan." ucap dr. Lany.

Tidak mengherankan, atas berbagai pengabdian dan kiprahnya di bidang kesehatan selama ini, dr. Lany mendapatkan penghargaan dari Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda pada tahun 2018 pada saat perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-73.

Selama masa pandemi, selain melakukan kegiatan pemberian pelayanan kesehatan, dr. Lany dan anggota diaspora di Belanda juga menyelenggarakan berbagai kegiatan lainnnya, antara lain: silaturahmi Sahabat IDN-NL dan merayakan HUT RI ke 75 serta pengajaran Bahasa Indonesia.
K
Diaspora juga menyelenggarakan sejumlah webinar untuk promosi Indonesia, yaitu Jamu Story: The Art of Healing, Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya yang Produktif dan Berkelanjutan di Era New Normal, Tenun Songke Weave of life, dan Penggunaan Busana Tradisional di masyarakat Badui di tengah-tengah Modernitas.

Diaspora di Belanda juga aktif mempromosikan Indonesia melalui berbagai organisasi antara lain, Stichting Hibiskus untuk budaya dan pendidikan oleh Ine WawoRuntu, Angklung Diaspora oleh Herman Syah, Madaloka untuk tari dan seni oleh Nova Burdo Marseline, Alzheimer Nederland oleh Amalia Fonk-Utomo dan Batik Masa Cinta oleh Ruben Fernhout.

Terima kasih diaspora Indonesia, terus berkarya untuk Indonesia!!

 

https://kumparan.com/yusuf-muhammad-dr/kisah-inspiratif-diaspora-belanda-bantu-wni-tangkal-corona-1u6WUZWTn1e/full

Share this article

Tobias Asserlaan 8,
2517 KC Den Haag, Belanda

 

 

www.indonesia.nl

kontak & pelayanan

Buka Kantor:
Senin - Jumat
10.00 - 17.00 

Kekonsuleran: 
Hari SENIN, RABU & JUMAT saja
10.00-12.00

Paspor: 
Hari RABU & JUMAT saja
10.00-12.00

Visa:  
Hari SELASA & KAMIS saja
10.00-12.00




KBRI tutup pada hari libur nasional Indonesia dan Belanda

info hari libur 2020

Lokasi & Route