Suikerfeest rasa Nusantara

Setelah berpuasa satu bulan lamanya. Berzakat fitrah menurut perintah agama. Kini kita beridul fitri berbahagia. Mari kita berlebaran bersuka gembira. Berjabatan tangan sambil bermaaf-maafan. Hilang dendam habis marah di hari lebaran.

Lagu “Hari Lebaran” karya seniman, musisi, dan komponis legendaris Indonesia, Ismail Marzuki, itu menggambarkan dengan jelas suasana di Wisma Duta, di Wassenaar pada Selasa, 4 Juni 2019. Sejak pukul 10.30, orang berdatangan ke kediaman resmi Duta Besar Republik Indonesia itu untuk merayakan Idul Fitri bersama warga Indonesia dari berbagai pelosok Negeri Belanda. Dengan wajah ceria, mereka saling bersalam-salaman dan mengucap, “Minal aidin wal faidzin, maaf lahir dan batin.”

Berbeda sehari dengan di Indonesia, 1 Syawal 1440 H di Belanda jatuh pada Selasa, 4 Juni 2019. Ini sesuai dengan keputusan para alim ulama dan tokoh-tokoh umat Islam di Den Haag, yang telah bermusyawarah pada Jumat, 24 Mei lalu. Meskipun Selasa, 4 Juni 2019, bukan hari libur di Belanda, tak kurang dari 2.000 orang hadir pada acara halal bihalal ini. Tak hanya kaum Muslim Indonesia di Belanda, melainkan juga warga non-Muslim, pelajar, mahasiswa, diaspora Indonesia, friends of Indonesia, pers dan masyarakat Belanda. Mereka datang dari berbagai kota di Belanda seperti Amsterdam, Den Haag, Groningen, Leiden, Rotterdam, Utrecht, dan Wageningen.

“Saya dari Groningen, datang ke sini karena ingin berlebaran bersama teman-teman,” kata Shania Aurielle. Mahasiswi Indonesia, yang kuliah di Universitas Groningen, itu rela naik kereta api dan menempuh jarak lebih dari 200 km, untuk mengobati rasa kangen suasana Idul Fitri di kampung halaman. Daan Goppel, niat menggenjot becaknya dari Amsterdam ke Den Haag, dilanjutkan dari Den Haag ke Wassenaar, untuk turut merayakan Idul Fitri bersama masyarakat Indonesia. “Dari kecil saya memang tertarik pada Indonesia,” kata pemenang lomba pidato berbahasa Indonesia 2017, yang pernah kursus Bahasa Indonesia selama dua bulan di Universitas Indonesia, Jakarta, itu.

Sementara itu, Tran Ngoc Linh Phuong, warga Vietnam yang kuliah di The Hague University of Applied Sciences, datang ke acara halal bihalal ini untuk melihat dan turut merasakan budaya Indonesia. Begitu juga Kililou Agrien, warga Rotterdam asal Togo, Afrika, yang sudah dua kali ikut merayakan Idul Fitri di Wisma Duta. Acara halal bihalal kali ini juga terasa istimewa dengan kehadiran para duta besar (dubes) dan perwakilan dari kedutaan besar negara-negara ASEAN dan negara sahabat lainnya. Tampak hadir, antara lain, adalah Dubes Filipina untuk Kerajaan Belanda, Dubes Malaysia, Dubes Vietnam, Dubes Thailand, Dubes Iran, dan Kuasa Usaha Ad-Interim Azerbaijan, yang akan menjadi Dubes Azerbaijan untuk Indonesia, serta Counsellor Bangladesh, Counsellor India, dan Counsellor Thailand.

Di Belanda, orang menamakan Idul Fitri dengan sebutan Suikerfeest, yang arti harfiahnya adalah pesta gula, karena pada hari itu banyak dihidangkan makanan manis. Sebutan itu muncul dari komunitas Maroko dan Turki di Belanda. Kalau Suikerfeest di Belanda dirayakan dengan menyuguhkan makanan manis, maka Idul Fitri di Wisma Duta dirayakan dengan suguhan khas lebaran tanah air, yakni lontong opor. Namun, tak hanya lontong opor yang dapat dinikmati siang itu. Jenis makanan lain juga berlimpah: sate, soto Betawi, sup konro, karedok, kambing guling dari restoran Bali James, nasi kebuli, dan masih banyak lagi. Jajanan kecil juga dihidangkan, seperti lumpia, lapis sagu, lupis, dan pastel. Untuk minuman, hadirin dapat menikmati wedang ronde, es cendol, dan es buah.

Sambil menyantap hidangan, seluruh hadirin dihibur dengan lagu-lagu Indonesia, persembahan para penyanyi Indonesia di Belanda: Duo Cici - Rudy, Asti Dewi, dan Vivi Subono. Selain lagu-lagu pop kondang Indonesia, seperti Burung Camar, mereka juga melantunkan tembang kondang Belanda, seperti Leef, lagu dangdut, dan lagu Jawa, seperti Bojoku Galak. Sudah menjadi tradisi, acara ditutup dengan menyanyi dan menari bersama tarian Poco-Poco dan goyang Maumere.

Acara Halal bihalal, yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag, merupakan acara tahunan dan merupakan puncak dari rangkaian penyelenggaraan kegiatan Ramadhan dan Idul Fitri di Belanda. Selain merayakan kemenangan umat Islam, acara ini juga dilangsungkan untuk lebih mempererat tali silahturahim dan persaudaraan antara KBRI Den Haag dengan masyarakat Indonesia, termasuk dengan para pemuka agama non-Islam Indonesia di Belanda dan masyarakat Belanda yang memiliki kedekatan dengan Indonesia.

Sebelum berkumpul di Wisma Duta, KBRI dan umat Muslim Indonesia melakukan sholat Idul Fitri di Masjid Al-Hikmah, Den Haag. Bertindak sebagai Imam adalah Ustazd Mukhtar Hanif Zamzamy dan sebagai Khotib, Ustazd Muhammad Iqbal, yang menyampaikan khotbah berjudul Idul Fitri dan Merawat Pesan Ramadhan Dalam Kehidupan. Sholat ini dihadiri sekitar 1.800 orang, terdiri atas warga Indonesia, warga Belanda, dan warga negara lainnya, seperti Turki dan Maroko.

Share this article

Tobias Asserlaan 8,
2517 KC Den Haag, Belanda

 

 

www.indonesia.nl

kontak & pelayanan

Buka Kantor:
Senin - Jumat
09.00-13.00 dan 14.00-17.00

Paspor / Visa: 
09.00-12.00 (Pengajuan)
15.00-16.00 (Pengambilan) 

Kekonsuleran: 
09.00-12.00 (Pengajuan) 
09.00-12.00 (Pengambilan)


KBRI tutup pada hari libur nasional Indonesia dan Belanda

info hari libur 2019

Lokasi & Route