Print this page

“Bali Behind the Scenes” dipamerkan di Amsterdam

Pameran ‘Bali Behind the Scenes’ dibuka secara resmi di Tropenmuseum, Amsterdam pada tanggal 13 Februari 2020. Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja turut hadir dalam pembukaan tersebut bersama dengan ratusan orang yang memadati aula museum yang begitu antusias untuk menikmati pameran perdana tersebut.

 

Acara yang dibuka dengan penampilan tari Condong yang diiringi dengan musik khas Bali, seketika memusatkan perhatian hadirin ke atas panggung. Namun rupanya ini bukan penampilan tari sebagaimana biasa karena di sela-sela tarian, penari terus-menerus dililit dengan plastik, berikut dengan gamelan, gong, dan kendang. Tempo semakin intens hingga pada klimaksnya, penari tersebut menangis dan tidak lagi mampu bergerak sama sekali. Demikianlah pembukaan pameran yang dramatis dan refleks mendapat riuh tepuk tangan dari hadirin.

Selanjutnya di hadapan lebih dari 700 undangan, Dubes I Gusti A. Wesaka Puja menyampaikan sambutan pidato menyinggung sekala dan niskala, yakni sebuah filosofi masyarakat Bali tentang apa yang ‘tampak dan tidak tampak’ oleh mata telanjang. Menjadi luar biasa ketika seseorang mampu ‘melihat’ yang tidak tampak tersebut, seperti bagaimana para seniman dan kontributor pameran menggali apa yang terjadi dengan Bali di tengah popularitasnya sebagai sebuah destinasi pariwisata. Dubes Puja mengapresiasi segenap tim di balik ‘Bali Behind the Scenes’ yang telah mempersembahkan pameran yang spektakuler.

“Seni dan kreativitas mengubah dunia lebih cepat daripada politik,” kata Dubes Puja. Menurutnya, permasalahan sampah plastik dapat menghambat seni dan kreativitas tersebut bagi masyarakat Bali. Dengan demikian, Dubes Puja mengajak hadirin untuk bersama-sama menjaga agar kualitas seni dan kreativitas tetap tinggi dan sekaligus menjadikan Bali konsisten sebagai tempat yang didambakan sebagaimana dahulu seniman Belanda Rudolf Bonnet mengagumi Bali.

Beragam jenis karya yang telah dikurasi secara ketat dipamerkan. Adapun karya-karya tersebut tidak hanya menyuguhkan pengunjung dengan estetika, tetapi secara tidak sadar juga memicu pertanyaan-pertanyaan reflektif yang dapat membuka diskusi baru. Pameran ‘Bali Behind the Scenes’ menonjolkan sisi dinamis kebudayaan Bali yang dapat dilacak sejak masa pendudukan Belanda. Salah satu koleksi yang ditampilkan adalah peninggalan benda bersejarah bekas Kerajaan Badung, Tabanan, dan Klungkung yang menjadi saksi bisu atas pemerintahan kolonial di pulau ini. Imajinasi tentang Bali tempo dulu juga dibentuk melalui foto-foto lawas yang menjadi bagian dari pameran.

Berbicara mengenai dinamika, dalam pameran ini seniman dan aktivis Bali Made Bayak menyoroti persoalan sampah plastik melalui seni plastikologi-nya. Sementara itu, pemuka agama Hindu Ida Dalem Parama Diksita lebih menunjukkan bagaimana beliau berupaya melestarikan tradisi dan ritual yang telah lama ada. Sedangkan I Dewa Ayu Putu Evayanti, yang bekerja di industri pariwisata, mengambil fokus tentang bagaimana ia melihat masa depan sebuah pulau di tengah pembangunan dan urbanisasi.

Ketika menyoroti pariwisata dunia, mustahil rasanya tidak membawa nama Bali ke dalam pembicaraan. Alam yang permai, tradisi unik nan sakral, serta keramahan yang ditawarkan selama bertahun-tahun berhasil memikat hati para wisatawan hingga menjadikan Pulau Dewata sebagai destinasi populer, bahkan salah satu yang paling digemari di seluruh dunia. Kendati keindahannya langgeng, tidak dapat dinafikan bahwa perkembangan pariwisata yang pesat mendatangkan konsekuensi bagi Bali. Hal inilah yang berusaha disampaikan dalam pameran ‘Bali Behind the Scenes’ yang bisa dinikmati pengunjung Tropenmuseum mulai 14 Februari 2020 hingga 10 Januari 2021.

Share this article