Diplomasi Kakao: Merajut Kembali Kejayaan Indonesia

Jakarta, Indonesia - “Kakao, salah satu komoditas strategis Indonesia yang menunjang kehidupan 1,7 juta petani Indonesia, terus mengalami penurunan produksi dan produktivitas hingga mencapai 51% dalam sepuluh tahun terakhir.

Merujuk data International Cocoa Organization (ICCO) Indonesia terancam turun menjadi produsen kakao terbesar ke-4 dunia, setelah sebelumnya berada di peringkat 3 setelah Pantai Gading dan Ghana." Demikian fakta yang disampaikan Dirjen Kerja Sama Multilateral dalam pembukaan Workshop Enhancing Cooperation between the Government and the ICCO on the Development of Indonesia's Cocoa Sector" di Hotel Aryaduta, Jakarta, 14 Februari 2019.

Memanfaatkan kunjungan kerja Executive Director ICCO di Indonesia 14-18 Februari 2019, workshop yang dipandu oleh Direktur Perdagangan, Komoditas, dan Kekayaan Intelektual selaku Chair of the ICCO Council 2019-2020 mempertemukan berbagai pemangku kepentingan kakao nasional dengan Michel Arrion, Executive Director ICCO yang baru terpilih pada akhir September 2018. Diharapkan pertemuan multi-stakeholder tersebut dapat mengidentifikasi dan mengeloborasi potensi kerja sama dengan ICCO untuk menghadapi permasalahan sektor kakao Indonesia. Pertemuan juga berharap ED ICCO bisa mendapatkan gambaran kondisi sektor kakao Indonesia saat ini sehingga ICCO dapat memfasilitasi Indonesia membawa kembali kejayaan kakao dan meningkatkan kesejahteraan petani.  

Penurunan produksi dan produktivitas kakao di Indonesia secara umum disebabkan oleh berbagai faktor seperti pohon yang sudah tua, hama dan penyakit, pengalihan lahan ke komoditas lain, serta adanya volatilitas harga.  

“Untuk mendapatkan kualitas biji kakao premium, faktor kuncinya adalah penanganan pasca panen mulai dari fermentasi, pengeringan, packaging, dsb; sementara bibit akan berpengaruh sekitar 20%." Ujar ED ICCO, menanggapi pernyataan dari salah satu peserta yang berpandangan kualitas dan rasa kakao Indonesia kalah bersaing dengan kualitas kakao di Afrika dan Amerika Latin. 

ED ICCO juga memaparkan prioritas strategis ICCO di bawah kemimpinannya, yaitu (a) mendorong sustainable value chain and agriculture dari segi ekonomi, sosial, dan lingkungan, termasuk meningkatkan pendapatan petani; (b) melibatkan semua pemangku kepentingan, tidak hanya negara produsen dan konsumen, tetapi juga LSM, swasta, dan petani; (c) memperkuat data dan satistik; serta (d) mengimplementasi berbagai proyek yang bermanfaat bagi anggota.

Selain ED ICCO, juga hadir sebagai narasumber: Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan dan Ketua Dewan kakao Nasional (Dekaindo). Sementara itu peserta yang hadir mencakup Direktur Utama Riset Perkebunan Nusantara (RPN), Ketua Dewan Kakao Indonesia, Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), wakil dari berbagai K/L terkait, wakil dari berbagai asosiasi kakao di Indonesia, Puslitkoka, industri dan akademisi. (Sumber: Dit. PKKI)

Share this article

Tobias Asserlaan 8,
2517 KC Den Haag, Belanda

 

 

www.indonesia.nl

kontak & pelayanan

Buka Kantor:
Senin - Jumat
10.00*-13.00 dan 14.00-17.00

Paspor / Visa: 
10.00*-13.00 (Pengajuan)
15.00-16.00 (Pengambilan) 

Kekonsuleran: 
10.00*-13.00 (Pengajuan) 
10.00*-13.00 (Pengambilan)


KBRI tutup pada hari libur nasional Indonesia dan Belanda

info hari libur 2019

* Selama bulan Ramadhan (6 Mei - 4 Juni 2019)

Lokasi & Route