Indonesia tampil sebagai guest country pada WorldProef Culture 2018 di Belanda

Thijs Jansen duduk bersila di hadapan sebuah kantilan. Selembar udeng, ikat kepala khas Bali, berwana hitam bermotif emas menghias kepalanya. Kontras dengan warna rambutnya yang pirang.

Dibimbing seorang wanita yang duduk di sebelahnya, lelaki muda asal kota Enschede, Belanda, ini memukul bilah-bilah besi pada instrumen gamelan Bali tersebut. Thijs berusaha mengikuti irama musik tradisional Bali, yang dimainkan oleh sejumlah orang Belanda lainnya, termasuk temannya, Lennard Buitenhuis, yang ikut memainkan instrumen lainnya, gangsa.

“Wow, menarik sekali,” kata Thijs dan Lennard usai bermain gamelan. “Agak sulit mengikuti, karena saya belum pernah memainkan alat musik sama sekali. Tapi, saya senang bisa mencoba memainkan gamelan Bali,” kata Thijs lagi, dengan antusias. “Kalau saya tidak sulit mengikuti permainan tadi, karena saya main musik juga, gitar,” Lennard menimpali. Sore itu, Thijs dan Lennard mengikuti workshop bermain gamelan Bali, yang digelar pada acara WorldProef Culture di Oranjepark, Apeldoorn, Minggu, 1 Juli 2018, mulai pukul 13.00 hingga 19.00 waktu setempat.

WorldProef Culture diselenggarakan oleh Gelre International Association (GAI). Acara tahunan ini menampilkan berbagai negara dengan pertunjukan panggung seni budaya serta bazar produk dan makanan. Untuk penyelenggaraan tahun ini, GAI mengundang Indonesia untuk menjadi negara tamu (guest country). Untuk itu, Kedutaan Besar Indonesia di Den Haag, bekerjasama dengan Rumah Budaya Indonesia, serta didukung oleh Pemerintah Kota Ambon dan Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara Barat tampil dengan menyuguhkan berbagai kegiatan seni dan budaya, siap menghibur sekitar 5.000 pengunjung yang hadir silih berganti hari itu.

Acara dibuka secara resmi oleh Presiden GAI, Simon Boon, disusul dengan sambutan Kuasa Usaha a.i. Indonesia, Fikry Cassidy. Hadir pada pembukaan siang itu, Walikota Apeldoorn, John Berends; Walikota Ambon, Richard Louhenapessy; Bupati Maluku Tenggara Barat, Petrus Fatlolon; serta warga kota Apeldoorn dan sekitarnya. Apeldoorn adalah sebuah kota di Provinsi Gelderland, di Belanda tengah, dengan jumlah penduduk sebanyak 160.852 orang (2017). Apeldoorn merupakan kota kedua, setelah Den Haag, dengan populasi Indisch (warga Belanda dengan latar belakang Indonesia) terbanyak di Belanda.

“Sebagai guest country, perkenankan kami untuk mempersembahkan seni dan budaya  Indonesia, dengan fokus Maluku, kepada Kota Apeldoorn,” kata Fikry Cassidy dalam sambutannya.  “Sepanjang siang hingga sore nanti, anda semua dapat menikmati lagu-lagu dan tarian tradisional Maluku, persembahan Kota Ambon dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat,” Fikry menambahkan, sambil mengajak para pengunjung untuk mengunjungi stan-stan Indonesia yang menjual makanan dan kerajinan tangan khas Indonesia. “Lebih dari itu, Anda semua juga dapat memberi bantuan bagi berbagai kegiatan amal di Indonesia lewat Heka Leka Foundation.”

Untuk menampilkan keberagaman budaya Indonesia, di Oranjepark juga dibangun tenda-tenda khusus Sulawesi, Bali, dan Sumatra.  Di tenda Sulawesi, anak-anak dapat meminta seniman pelukis wajah Indonesia, Ferlin Yoswara, untuk melukis wajahnya dengan berbagai karakter satwa khas Sulawesi, seperti babi rusa dan burung julang. Di tenda Bali, para pengunjung dapat mengikuti workshop menari dan bermain gamelan. Sedangkan di tenda Sumatra, anak-anak dapat mendengarkan cerita rakyat Sumatra yang dibawakan dalam bahasa Belanda oleh Inge Dumpel. Melalui kisah Malin Kundang dan Sang Burung Enggang, anak-anak Belanda diperkenalkan dengan nilai-nilai dalam budaya Indonesia melalui pesan moralnya.

Pengunjung dapat berfoto dengan memakai pakaian adat dari berbagai provinsi di Sumatra. “Ide ini sangat menarik,” kata seorang pria Belanda, yang ingin difoto dengan kostum Aceh. “Saya punya kedekatan dengan Aceh, karena Opa saya dulu pernah tinggal di sana, dan saya juga pernah beberapa kali mengunjungi Aceh.” Setelah foto selesai diproses, dengan wajah ceria pria itu bilang, “Bagus ya? Saya akan kembali lagi ke Aceh!”   

Adrianne Zuiderweg adalah sekretaris pada yayasan warisan Indisch (Stichting Indisch Erfgoed) di Apeldoorn. Siang itu di tenda Sumatra, ia minta difoto dengan baju tradisional Sumatra. “Bagus ya? Saya orang Belanda, tapi bisa cantik juga memakai pakaian tradisional Sumatra,” katanya sambil tersenyum lebar. Adrianne sangat ingin mengenakan kostum tersebut, karena alasan khusus. “Tahun lalu saya memberikan ceramah di kota Bronbeek tentang seorang wanita kuat dari Sumatra.” Yang dimaksud Adrieanne adalah Siti Rohana Kudus, wartawan perempuan pertama dari Sumatra Barat, dan kakak tiri Perdana Menteri pertama Indonesia, Sutan Syahrir.

Seperti disampaikan oleh Simon Boon, WorldProef Culture di Apeldoorn yang telah berlangsung selama lima tahun ini bertujuan untuk memberi kesempatan yang luas untuk people to people contact antar berbagai bangsa, saling belajar antar berbagai budaya, serta membangun saling pengertian untuk terbentuknya perdamaian dunia. Untuk itu, KBRI Den Haag selain mempromosikan kebudayaan dalam bentuk penampilan tari dan lagu juga memanfaatkan momen kali ini untuk menumbuhkan minat dan ketertarikan anak-anak di Belanda terhadap Indonesia.  Pengenalan terhadap Indonesia sejak usia muda diharapkan membangun kedekatan emosional dan ketertarikan untuk mengenal Indonesia lebih dekat.

 

Share this article

Tobias Asserlaan 8,
2517 KC Den Haag, Belanda

 

 

www.indonesia.nl

kontak & pelayanan

Buka Kantor:
Senin - Jumat
09.00-12.00 dan 15.00-16.00

Paspor / Visa: 
09.00-12.00 (Pengajuan)
15.00-16.00 (Pengambilan) 

Kekonsuleran: 
09.00-12.00 (Pengajuan) 
11.00-12.00 (Pengambilan)


KBRI tutup pada hari libur nasional Indonesia dan Belanda

info hari libur 2018

Lokasi & Route